

Pendahuluan
Perbedaan utama antara manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah manusia mempunyai akal untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang kompleks dan mengkomunikasikannya melalui bahasa. Berpikir merupakan kegiatan mental yang membutuhkan kemampuan untuk membayangkan atau menggambarkan benda maupun peristiwa yang sudah terjadi maupun yang kemungkinan akan terjadi. Jadi, apabila kita disuruh berpikir tentang suatu kejadian yang tidak sedang terjadi sekarang (misalnya : siswa tadi berdiskusi di kelas), kita harus menggambarkan objek dan aktivitas tersebut pada diri kita. Untuk memahami bagaimana kita menggambarkan objek atau aktivitas tersebut pada diri kita, terlebih dahulu kita harus mengenal beberapa konsep. Suatu konsep akan menjadi fondasi bagi penggambaran dan pikiran kita. Oleh karena itu, konsep merupakan alat yang baik atau tepat dalam berpikir atauproblem solving.
Pembentukan konsep merupakan hal pokok dalam berpikir. Pemahaman konsep memberikan kontribusi yang besar pada pengambilan keputusan, baik itu dalam situasi belajar maupun situas lainnya. Dalam memaknai suatu objek atau peristiwa, individu harus memahami terlebih dahulu konsep tentang hal yang berkaitan dengan objek atau peristiwa tersebut. Pemahaman konsep tidak hanya sekedar mengingat tetapi individu mampu menerapkan konsep-konsep tersebut ke dalam suatu rangkaian permasalahan.
Konsep adalah kategori-kategori yang mengelompokkan objek, kejadian dan karakteristik berdasarkan ciri atau bentuk umum (Zark & Tversky, 2001). Konsep akan membantu dalam proses mengingat dan membuatnya menjadi lebih efisien. Anak yang sudah memahami konsep suatu objek akan lebih mudah menerapkan dalam pemecahan permasalahan, misalnya saat anak diminta menyebutkan buah-buahan, maka anak akan menyebutkan apel, jeruk, nanas dan lain sebagianya tanpa harus dijelaskan terlebih dahulu. Suatu konsep dapat dibentuk melalui pengalaman langsung dengan objek atau kejadian dalam kehidupan, melalui gambar visual, dan kata bermakna atau semantik.
Beberapa konsep relatif sederhana, jelas, dan konkrit. Namun, ada juga konsep yang lebih kompleks, membingungkan, dan abstrak. Konsep sederhana lebih mudah dikenali dan disepakati pengertiannya, misalnya konsep ”bayi”, ”apel”, ”meja”. Sedangkan konsep yang kompleks misalnya seperti konsep teori tegangan dalam fisika.
Pengertian Konsep
Banyak pengertian tentang konsep yang berkembang di kalangan ahli kognitif dan pendidikan, misalnya saja, Hulse, Egeth dan Deese (dalam Suharnan,2005) mendefinisikan konsep sebagai sekumpulan atau seperangkat sifat yang dihubungkan oleh aturan-aturan tertentu. Konsep merupakan bayangan mental, ide dan proses. Pembentukan konsep merupakan ketajaman berpikir dalam mengklasifikasikan objek atau ide (Solso, 2001).
Walgito (1992) mengemukakan bahwa konsep merupakan konstruksi simbolik yang menggambarkan ciri-ciri suatu objek atau kejadian. (misalnya konsep tentang manusia, segitiga, merah, belajar, dsb). Dengan kemampuan manusia untuk membentuk konsep atau pengertian, memungkinkan manusia untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan benda-benda atau kejadian-kejadian. Zacks & Tversky (dalam Santrock, 2007) mengatakan bahwa konsep adalah kategori-kategori yang mengelompokkan objek, kejadian, dan karakteristik berdasarkan properti umum. Konsep adalah elemen dari kognisi yang membantu menyederhanakan dan meringkas informasi (Hahn & Ramscar, dalam Santrock, 2007).
Menurut Morgan (1989) konsep adalah konstruksi atau gambaran untuk susunan simbolik yang mewakili suatu kejadian atau hal yang umum dan sering terjadi (Morgan, 1989). Kemampuan manusia dalam membentuk suatu konsep memudahkan manusia dalam mengkategorisasikan sesuatu. Konsep warna “merah” misalnya, kita dapat mengklasifikasikan objek-objek yang berwarna merah atau tidak. Contoh yang lain adalah “buah-buahan”, kita dapat mengklarifikasikan mana yang merupakan buah dan mana yang tidak.
Begitu pentingnya pemahaman konsep bagi proses berpikir kita, sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang manfaat pemahaman tentang suatu konsep, yaitu :
Jenis-Jenis Konsep
Menurut Ellis dan Hunt (dalam Suharnan, 2005) konsep dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan keasliannya, yaitu :
Konsep Logis
Konsep logis atau disebut juga konsep buatan digunakan dalam tugas belajar konsep dengan menghadirkan kepada subjek berbagai macam pola stimulus yang tidak biasa dialami di dalam lingkungan sehari-hari. Stimulus dikonstruksi secara sistematis sehingga memiliki dimensi-dimensi tertentu yang sangat jelas. Konsep yang dipelajari diseleksi secara sembarangan sesuai dengan kemampuan peneliti. Stimulus disusun dalam berbagai dimensi yang memiliki sifat-sifat yang relevan dan tidak relevan terhadap konsep. Setiap dimensi dapat memiliki dua nilai atau lebih.
Selain itu, peneliti lain juga mengemukakan tentang quasi naturalistic concep(konsep semi alami), yaitu pembentukan konsep dengan cara menghadirkan stimulus yang lebih menyerupai dengan konsep alaminya.
Konsep Alami
Atribut-atribut yang membedakan diantara konsep-konsep alami tidak dapat dibatasi secara tegas, tidak ada aturan-aturan khusus yang digunakan untu mengkategorikan objek-objek alami ke dalam konsep tertentu. Apabila kepada subjek dihadirkan sejumlah stimulus yang tidak memungkinkan untuk digunakan beberapa aturan yang jelas, maka subjek akan cenderung mengabstraksikan satu bentuk prototipe bagi suatu kategori.
Selain konsep logis dan konsep alami yang dikemukakan oleh Ellis dan Hunt (1993), Winkel (dalam Suharnan, 2005) membedakan konsep menjadi dua macam, yaitu :
Konsep Konkret
Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-objek di dalam lingkungan fisik. Konsep konkret mewakili golongan benda tertentu (seperti meja, kursi, pohon, dsb) ; golongan sifat tertentu (seperti warna, bentuk); relasi tempat diantara benda-benda (di atas, di samping); golongan perbuatan tertentu (duduk, menurunkan, mengangkat, berjalan). Anak yang memiliki konsep tertentu mampu menunjukkan suatu benda atau perbuatan yang mewakili konsep itu dengan menunjuk pada realitas di dalam lingkungan fisik. Konsep konkret diperoleh melalui pengamatan terhadap lingkungan fisik.
Konsep yang Didefinisikan
Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas fisik karena tidak bisa diamati langsung. (misalnya : A merupakan saudara dari B). Konsep ini diajarkan melalui penggunaan bahasa dan sekaligus dijelaskan apa yang dimaksud dengan kata yang dimaksud atau dituangkan dalam bentuk definisi (contohnya kata ”saudara”.)
Sedangkan Walgito (2002) menggolongkan konsep atau pengertian menjadi beberapa jenis, antara lain :
Menurut Gelman, R., & Gallistel, C.R. (1978), konsep dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu :
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar Konsep
Proses belajar konsep dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah faktor pemberian contoh, atribut, umpan balik, bahan atau materi, dan perbedaan individu.
Pemberian contoh-contoh. Belajar konsep akan lebih cepat apabila menggunakan contoh-contoh positif daripada menggunakan contoh-contoh negatif, karena manusia cenderung menyukai contoh-contoh positif dan lebih informatif dalam memberikan pesan.
Atribut. Jumlah atribut yang relevan dan tidak relevan mempengaruhi tingkat kemudahan mempelajari konsep. Makin banyak jumlah atribut tambahan yang relevan, maka belajar konsep akan lebih cepat dan mudah, atau sebaliknya.
Umpan balik. Umpan balik dapat menyediakan informasi terhadap kebenaran atau esalahan hipotesis yang digunakan individu.
Perbedaan Individu. Menurut Chauhan dan Noverich (dalam Suharnan, 2005), dalam pembentukan konsep-konsep antar individu satu dengan yang lain dapat berbeda, tergantung pada tingkat usia, intelegensi, kemampuan berbahasa, pelatihan, atau pengalaman masing-masing.
Aturan Pembentukan Konsep
Belajar konsep dilakukan dengan sejumlah aturan atau cara-cara menurut logika yang menggabungkan sifat-sifat objek sehingga membentuk konsep-konsep. Aturan-aturan logika yang digunakan pada umumnya meliputi lima macam, yaitu :
Proses Pembentukan Konsep
Pandangan Klasik
Dalam pembentukan konsep yang baru paling sedikit terdapat dua komponen, yaitu mengidentifikasi sifat-sifat khusus yang dimiliki objek-objek; dan mempelajari bagaimana sifat-sifat itu dihubungkan melalui aturan-aturan tertentu. Proses pembentukan konsep menurut pandangan ini sangat menekankan pada segi aturan pembentuan suatu konsep.
Pandangan Modern
Pembentukan konsep mencakup dua tahapan proses, meliputi : a) mula-mula seseorang membentuk representasi informasi (di dalam ingatan) mengenai kelas konsep yang diberikan, kemudian b) mengembangkan keterampilan kognitif yang dibutuhkan bagi penggunaan informasi yang telah direpresentasikan untuk mengevaluasi dimensi-dimensi khusus, baik kesamaan maupun perbedaan di antara contoh-contoh baru.
Tarap Perkembangan Konsep
Individu mengalami taraf atau tingkatan dalam perkembangan konsep-konsepnya. Tingkatan ini tersusun berdasarkan pada tingkatan perkembangan kognitif (konsep Piaget) yang telah dicapai oleh individu tersebut. Adapun tingkatan-tingkatan tersebut antara lain :
Taraf Konkret
Individu telah mencapai tingkatan konkret apabila ia mengenal atau mempersepsi suatu objek yang telah ditemukan pada waktu sebelumnya. Langkah pertama dalam pencapaian taraf ini adalah menghampiri suatu objek dan mempresentasikannya secara internal. Selanjutnya ia mulai membedakannya dari objek-objek lain, kemudian menyimpan informasi yang dilihatnya dalam mental imajinasi dan mengenal atau mengingat masing-masing objek apabila ia mengalaminya kembali dikemudian hari. Tahap konkret ini pada umumnya dialami oleh bayi-bayi berusia beberapa bulan atau satu tahun, meskipun mereka belum berkembang dari segi bahasanya (Solso, 2001)
Taraf Identitas
Suatu konsep dicapai apabila individu mengenal suatu objek yang serupa dengan apa yang pernah ia temukan sebelumnya, sehingga ia mampu membedakan dan menggeneralisasikan objek tersebut dengan objek yang lainnya.
Taraf Klasifikasi
Taraf klasifikasi adalah kelanjutan dari taraf identitas. Pada taraf ini individu mampu mengklasifikasikan sejumlah besar contoh yang berbeda dari kelas yang sama, walaupun masih belum mampu memberikan alasan yang akurat tentang klasifikasi tersebut.
Taraf Formal
Konsep pada taraf formal telah dicapai apabila individu dapat memberi nama suatu konsep beserta contoh-contohnya secara tepat, baik nama intrinsik maupun definisi atribut-atribut yang dapat diterima oleh masyarakat, serta mampu memberikan alasan-alasan yang menjadi dasar pendefinisiannya.
CBT Light merupakan aplikasi Tes berbasis Komputer yang menggunakan dua aplikasi server, yaitu Node.js dan Xampp. Server Nodejs digunakan untuk transaksi antara peserta tes dengan server. Pada aplikasi Nodejs modul yang digunakan adalah modul socketio, axios, dan express serta mysql. Sedangkan dari ...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 20:53:17 23-01-2022
Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0 ditemukan pertama kali da...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 13:32:37 08-02-2019
Proses pembelajaran matematika yang lebih baik dan bermutu harus segera diselenggarakan. Sudah bukan zamannya lagi matematika dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan bagi siswa di sekolah. Jika selama ini matematika dianggap hanya sebagai ilmu abstrak, hanya teoritis, dan kumpulan rumus-rumus,, mak...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 13:31:55 08-02-2019
Tidak dapat dipungkiri kebanyakan dari guru mempunyai pengalaman tidak menyenangkan sewaktu mempelajari matematika di SD, SMP, atau SMA. Kenyataan ini tidak jarang berubah menjadi suatu kebencian terhadap apa saja yang berhubungan dengan matematika. Bahwasanya matematika tidak disenangi di masyaraka...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 13:31:14 08-02-2019
ABSTRAKSatu masalah biasanya memuat suatu situasi yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak bagaimana cara memecahkan masalah tersebut. Jika seorang guru memberikan suatu masalah kepada siswa dan siswa tersebut langsung menyelesaikannya dengan baik dan benar maka soal t...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 13:29:40 08-02-2019
Banyak orang beranggapan bahwa penilaian kritis hanya cukup didasarkan pada dua hal, yakni: fakta dan opini. Namun sesungguhnya ada satu penilaian kritis lainnya yang seringkali dilupakan orang. Penilaian kritis ini bukan hanya penting dan bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga sangat penting dan b...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 13:28:16 08-02-2019
SUDAH hampir 3 abad silam revolusi industri pertama terjadi. Kini, kita telah memasuki revolusi industri keempat: era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sayangnya, revolusi industri tidak terjadi secara serentak di seluruh dunia. Negara yang kurang siap mengikuti perkembangan ...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 20:45:50 31-01-2019
Karakteristik Matematika Jika ditanyakan “matematika itu apa?”, mungkin 1000 orang akan menjawab dengan 1000 cara yang belum tentu sama. Satu hal yang perlu disadari oleh guru bahwa matematika adalah ilmu dasar yang karena itu meluas dan masuk ke dalam segala aspek kehidupan kita. Singkat k...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 17:25:13 22-01-2019
Berhadapan dengan sesuatu yang tidak rutin dan kemudian mencoba menyelesaikannya merupakan ciri khas makhluk hidup yang berakal. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan latihan bagi siswa untuk berhadapan dengan sesuatu yang tidak rutin dan kemudian mencoba menyelesaikan. Ini adalah salah satu...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 18:28:24 09-01-2019
Kebenaran merupakan hal teramat penting dalam ilmu pengetahuan maupun di luar ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari juga dikenal kebenaran dan ketidakbenaran. Tindakan atau ucapan seseorang sering digolongkan kepada benar dan tidak benar, meski dalam perkembangannya dimungkinkan penggo...
Read MoreAhmad Mustofa (Kota Bogor) 12:22:16 09-01-2019
© 2019 FKN MGMP MATEMATIKA SMP